Pagar Alam: Kota Dingin di Kaki Gunung Dempo, Sumatera Selatan

TL;DR

Pagar Alam adalah kota di Provinsi Sumatera Selatan yang terletak di kaki Gunung Dempo, sekitar 298 km dari Palembang. Dengan luas 633,66 km² dan lebih dari 150.000 penduduk, kota ini dikenal karena udara sejuknya, kebun teh satu-satunya di Sumatera Selatan, produksi kopi robusta lebih dari 21.000 ton per tahun, serta ratusan situs megalitikum peninggalan peradaban Besemah yang usianya lebih dari 2.500 tahun.

Kota Pagar Alam berdiri di ketinggian 400 hingga 3.400 meter di atas permukaan laut, terjepit di antara barisan pegunungan Bukit Barisan dan Gunung Dempo yang masih aktif. Udara di sini berbeda dari kebanyakan kota di Sumatera, cukup sejuk untuk membuat wisatawan mengenakan jaket di siang hari. Ini bukan hanya latar belakang yang menarik; iklim inilah yang membentuk seluruh karakter kota.

Pagar Alam resmi berstatus kota berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2001, setelah sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Lahat. Secara administratif, kota ini terbagi atas lima kecamatan: Pagar Alam Utara, Pagar Alam Selatan, Dempo Utara, Dempo Tengah, dan Dempo Selatan, dengan total 35 kelurahan.

Gunung Dempo dan Alam Pegunungan yang Menjadi Identitas Kota

Gunung Dempo berdiri di perbatasan Kota Pagar Alam dan Provinsi Bengkulu. Dengan ketinggian 3.159 mdpl, gunung berapi aktif ini adalah puncak tertinggi di Sumatera Selatan dan menjadi titik orientasi siapa pun yang baru tiba di kota ini. Dari pusat kota, puncaknya terlihat jelas di hari yang cerah.

Jalur pendakian Gunung Dempo dimulai dari Tugu Rimau di ketinggian sekitar 1.800 mdpl, titik yang juga berfungsi sebagai lokasi paralayang. Gunung ini punya dua puncak yang bisa didaki: Puncak Dempo dan Puncak Merapi. Para pendaki tidak perlu khawatir soal air karena sumber mata air jernih masih bisa ditemukan sampai setengah perjalanan.

Di lereng Gunung Dempo, hamparan kebun teh milik PTPN VII membentang seluas sekitar 1.500 hektar pada ketinggian 1.520 mdpl. Ini adalah kebun teh satu-satunya di Sumatera Selatan, dan salah satu yang tertua di Indonesia karena sudah beroperasi sejak 1929. Pagi hari di sini terkenal: kabut tipis di antara baris-baris tanaman teh, dengan siluet Gunung Dempo di latar belakang.

Baca juga: KUD Pagar Alam: Koperasi Unit Desa yang Mendukung Petani Lokal

Kopi Robusta: Komoditas yang Menghidupi Kota

Kalau kebun teh adalah wajah wisata Pagar Alam, maka kopi adalah nadinya. Masuk ke kota ini, kebun kopi terlihat di hampir setiap sisi jalan, dari tanaman yang baru berbunga sampai yang sudah tua dan rimbun. Hubungan antara kopi dan masyarakat Pagar Alam bukan sesuatu yang baru dibangun untuk pariwisata; ini sudah berlangsung turun-temurun.

Menurut data Dinas Pertanian Kota Pagar Alam, produksi kopi di kota ini mencapai lebih dari 21.000 ton per tahun dari lebih dari 8.000 hektar lahan perkebunan. Sentra utamanya ada di tiga kecamatan: Dempo Utara, Dempo Tengah, dan Dempo Selatan. Jenis yang mendominasi adalah robusta, meski pengembangan arabika mulai didorong karena nilai jualnya yang lebih tinggi.

Kopi Pagar Alam dikenal dengan profil rasa strong bitter yang khas, dan sudah menjangkau pasar nasional maupun ekspor. Di kota ini, tradisi menjemur biji kopi di halaman rumah masih mudah ditemukan di desa-desa sekitar perkebunan. Bagi yang tertarik mengikuti proses pengolahan dari awal, beberapa petani dan pelaku usaha kopi di kawasan Dempo terbuka untuk kunjungan.

Situs Megalitikum Besemah: Warisan Prasejarah yang Tersebar di Kebun dan Sawah

Di sinilah Pagar Alam menyimpan sesuatu yang jarang dimiliki kota lain di Indonesia. Peneliti Belanda Van der Hoop mencatat ada 22 area yang diyakini sebagai lingkungan situs megalitikum dari zaman prasejarah di Tanah Besemah. Arca-arca batu, dolmen, menhir, peti kubur batu, dan ukiran batu tersebar bukan di museum, melainkan di tengah sawah, kebun kopi, dan ladang penduduk.

Peninggalan ini diperkirakan berasal dari masa perundagian, sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi, ketika teknik pengerjaan logam mulai berkembang. Keunikannya: arca-arca Besemah tidak menggambarkan dewa atau nenek moyang dalam bentuk abstrak, melainkan manusia biasa yang hidup di Besemah saat itu. Ada yang digambarkan menunggang gajah, ada yang dililit ular, ada yang membawa senjata. Gaya pahatannya disebut “dinamis” oleh arkeolog Von Heine-Geldern karena tampak bergerak, tidak kaku.

Dua situs yang paling dikenal dan mudah dikunjungi adalah Situs Tegur Wangi di Kecamatan Dempo Utara dan Situs Tanjung Aro. Situs megalitikum Pagar Alam juga sudah didaftarkan ke UNESCO sebagai kandidat Situs Warisan Budaya. Satu catatan praktis: jarak antara satu situs dan situs lainnya cukup berjauhan, jadi sebaiknya rencanakan kunjungan dengan kendaraan pribadi dan alokasikan setidaknya satu hari penuh.

Baca juga: Unit Usaha KUD Pagar Alam: Simpan Pinjam, Perdagangan, dan Jasa

Daya Tarik Lain di Pagar Alam: Air Terjun, Danau, dan Taman Bunga

Pagar Alam punya lebih dari 30 air terjun, sebagian besar di kawasan sekitar Gunung Dempo. Yang paling dikenal antara lain Curup Embun di Kecamatan Pagar Alam Utara, dengan ketinggian sekitar 100 meter dan volume air yang kecil sehingga airnya tampak berpendar seperti embun saat jatuh. Ada juga Air Terjun Pintu Langit di Kecamatan Dempo Utara dengan ketinggian 35 meter, cocok untuk yang ingin berenang atau sekadar duduk di tepinya.

Danau Tebat Gheban terletak sekitar 7 km dari pusat kota di Kecamatan Pagar Alam Utara. Danau alami seluas sekitar 4 hektar dengan kedalaman hingga 12 meter ini dikelilingi pohon cemara dan dilengkapi gazebo. Aktivitas yang bisa dilakukan di sini cukup beragam: memancing, menyusuri danau dengan rakit, atau hanya duduk sambil melihat ke arah Gunung Dempo di hari yang cerah.

Di kawasan Gunung Dempo, ada juga Dempo Park yang menampilkan taman bunga dengan warna-warni beragam, serta Tangga Seribu, jalur pendakian bertangga panjang yang kedua sisinya diapit oleh hamparan kebun teh hijau. Bagi yang membawa keluarga, Green Paradise adalah pilihan agrowisata yang menyediakan kolam ikan, wahana permainan, berkuda, dan flying fox.

Cara Menuju Pagar Alam

Pagar Alam berjarak sekitar 298 km dari Palembang dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar tujuh jam dengan kendaraan pribadi melalui jalur darat. Kota ini juga memiliki Bandara Atung Bungsu di Kecamatan Dempo Selatan, meskipun rute penerbangannya terbatas. Pilihan paling umum bagi wisatawan dari luar Sumatera Selatan adalah terbang ke Palembang lalu melanjutkan perjalanan darat.

Pagar Alam cocok dikunjungi sepanjang tahun, tapi suhu di malam hari bisa turun cukup drastis, terutama di kawasan dataran tinggi sekitar Gunung Dempo. Siapkan pakaian hangat, khususnya jika berencana mendaki atau menginap di sekitar kebun teh.

Pagar Alam Bukan Sekadar Destinasi Wisata

Yang membuat Pagar Alam berbeda dari banyak kota wisata alam di Indonesia adalah bahwa kota ini punya kehidupan dan identitas yang utuh di luar sektor pariwisata. Kebun kopi di halaman rumah, tradisi mengolah biji kopi secara manual, arca-arca prasejarah yang berdiri di tengah sawah aktif, kebun teh yang sudah hampir satu abad beroperasi, semuanya bukan atraksi buatan, melainkan bagian dari keseharian kota ini. Wisatawan yang datang dengan kesabaran untuk menjelajah akan menemukan dimensi Pagar Alam yang tidak terlihat dari foto-foto di media sosial.

Scroll to Top